sedikit penjelasan acak adut

 

Katanya Bung Hatta, perguruan tinggi itu membentuk insan akademis tapi ketika seorang siswa dengan bangga menerima surat penerimaannya di perguruan tinggi dan menyematkan gelar ‘maha’ di depan siswa maka saat itu pulalah ia menerima mandat yang sama, menjadi insan akademis.  Di ITB ini ada beberapa budaya kampus, 7 si yang beneran, walaupun ada beberapa DLC seperti deadliner, ambis dan lain2. 7 budaya kampus yang dipegang oleh mahasiswa tersebut adalah: Integritas, Kajian, Peduli Lingkungan, Apresiasi, Berkarya, Berpikir Kritis-Solutif, dan Berhimpun.

 Budaya kampus yang ke-7 tadi barangkali merupakan budaya kampus yang paling terlihat, terasa, dan paling dicari oleh mahasiswa ITB. Bagaimana tidak budaya berhimpun sudah menjadi tonggak kemerdekaan Indonesia , sebut saja Boedi Oetomo dan PNI yang menjadi motor penggerak penting dalam permulaan perjuangan Indonesia lewat jalan terdidik.

 Di ITB ini ada banyak sekali wadah-wadah agar mahasiswanya dapat mencurahkan hasrat berhimpunnya. Bila dilihat gambar dibawah ini merupakan skema koordiansi wadah berhimpun terbesar di ITB, KM ITB.

 5 elemen yang tertera di sana masing-masing memiliki massanya tersendiri (mahasiswa) yang menjadi penggeraknya. Secara general penjelasan kelima elemen tersebut adalah:

1.       Kongres KM ITB sebagai perwujudan kedaulatan tertinggi di KM ITB.

2.       Kabinet KM ITB sebagai badan eksekutif di tingkat pusat.

3.       MWA-WM sebagai perwakilan mahasiswa yang tergabung dalam tim MWA.

4.       HMJ sebagai wadah kebutuhan sektoral mahasiswa dalam bidang keilmuwan dan keprofesian.

5.       UKM sebagai organisasi yang berdasarkan pada kesamaan minat dan bakat.

 

 Aku sendiri sebagai seorang Mabaju (Mahasiswa Baru Jurusan) sedang berada dalam masa transisi yaitu dari anggota muda KM ITB menjadi anggota biasa KM ITB. Profil pra lembaga TPB bertransisi menjadi kudu memenuhi profil orientasi lembaga. Mahasiswa tingkat 1 menjadi mahasiswa tingkat 2. Sesuai dengan salah satu profil yang kudu terpenuhi pada diri mahasiswa tingkat 1 KM ITB yaitu “Memiliki rasa ingin tahu guna menumbuhkaan semangat untuk berkegiatan dan berorganisasi di kampus” . Dengan  berbekal profil tersebut aku semakin paham konsekuensi untuk berhimpun, semangat berorganisasi, dan urgensiku untuk menjalani profil tingkat pra lembaga.

 Seperti yang dapat dilihat pada bagan di atas ada banyak sekali wadah untuk berhimpun secara formal (yang nggk formal kayak ngopi di ganyang atau main GTA V di rumah abah) yang dari proses berhimpun tersebut akan menjadi wadah ku untuk berkembang. Semakin lama aku melewati hiruk pikuk perkuliahan semakin aku sadar bahwa indeks angka di sisi nama mata kuliah bukanlah segalanya. Masih dibutuhkan skill-skill yang lebih dari itu agar aku dapat survive di dunia luar, agar dapat melaksanakan tugasku sebagai seorang pengamal tugas insan akademis, “selalu mengembangkan diri sehingga menjadi generasi yang tanggap dan mampu menghadapi tantangan masa depan”. KM ITB menyediakan semua itu lewat elemen-elemennya entah itu sebagai anggota maupun pengurus.

 Selama melewati massa TPB (Tahap Paling Bahagia) aku menginisiai semangat berhimpunku lewat UKM yaitu ISO (ITB Student Orchestra) wadah para mahasiswa yang senang musik orkes (dan julid di sela latihan) berhimpun. Aku juga mulai mengasah kepekaanku tentang pendidikan di Indonesia lewat acara AMI 2020 (Aku masuk ITB 2020) sebagai panitia tour yang mengajak para camaba (dan kating) berkeliling IT, menyebarkan semangat perguruang tinggi, ilmu pulang dan kembali. Aku pun mulai menginisiasi menjadi bagian dari sebuah mekanisme yang lain, aku mencoba menjadi bagian dari anggota kesekretariatan Kongres KM ITB dan mulai mengasah diriku lewat acara-acara yang ada di ITB seperi Sekolah Mentor OSKM ITB 2020.

M Mikail Hakim Padmanagara
Teknik Geologi
Nomad 07/Tribe 04
Bandung

 

 

Referensi:

1.       RUK KM ITB amandemen 2020

2.       TOR OSKM 2020

3.       Materi gmeet ditengah malam dengan para pari

 


Comments